Tim Pemantauan Lapangan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Sekretariat Dukungan Kabinet, Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) tiba di Padang, belum lama ini.
Usai melakukan rapat bersama jajaran kerja di Pemeirntah Kota (Pemko) Padang, tim ini langsung memantau kondisi lapangan.
Tim berkunjung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Parak Karakah yang dikelola oleh Yayasan Asmaul Kalidamang, lalu Tim Setneg berbincang langsung dengan personil SPPG.
“Secara umum, dapur yang kita kunjungi sudah memenuhi prosedur,” kata salah seorang Tim dari Setneg Muhammad Erwin Mulyana.
Setelah melihat dapur, tim kemudian bergerak menuju SMA Kartika I-5, kemudiantim menanyakan langsung kepada siswa didik atas MBG yang diterima.
Pada sekolah ini, tim mendengar langsung pengakuan setiap siswa. Pada umumnya siswa merasa senang dengan adanya MBG, termasuk pihak sekolah, karena menu makanan yang diberikan menarik dan enak.
Muhammad Erwin mengatakan, nantinya seluruh informasi yang didapat akan menjadi bahan masukan dan kebijakan MBG ke depan, bahkan semuanya itu akan dilaporkan ke Presiden.
Sekretaris Daerah Kota Padang Andree Harmadi Algamar menilai MBG tidak saja sekadar makan, tetapi juga memliki nilai pendidikan yang ditanamkan kepada generasi muda sejak dini.
“MBG tidak saja makan, akan tetapi ada nilai pendidikan di sana,” ungkapnya saat menerima kunjungan Tim Pemantauan Lapangan MBG dari Sekretariat Dukungan Kabinet, Kementerian Setneg.
Dinilai mengandung unsur pendidikan, Andree menambahan, makan sebenarnya adalah upacara yang menjadi tradisi dan budaya masyarakat Indonesia.
Pada setiap makan bersama, diajarkan untuk lebih dulu membersihkan tangan, lalu kuku tidak panjang dan duduk dengan baik, serta sopan. “Makan adalah bagian pendidikan, menjadikan generasi lebih baik.”
Andree menegaskan, program MBG yang digagas Presiden memiliki tujuan mulia dan tidak hanya memberi akses makan kepada siswa, akan tetapi juga mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dia menyebutkan, program MBG harus terus didukung, meski saat ini terjadi sejumlah kejadian keracunan di beberapa daerah, akan tetapi program ini harus tetap dijaga dengan baik, karena mengandung nilai positif bagi kedisplinan anak.
Andree sempat menyinggung tentang kejadian keracunan MBG di sejumlah daerah dna menilai agar tidak terjadi lagi kasus serupa, setiap SPPG perlu terus konsisten dalam melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) penyajian.
“Susu yang disajikan kepada siswa harus dicek secara baik, apakah telah melewati kedaluarsa atau belum. Ompreng juga dicuci dengan baik agar tidak ada bakteri,” ungkapnya. BIG












