advertisements
advertisements
JABAR MagzRegional

Jabar Akselerasi Perluasan Areal Tanam Sawah Tadah Hujan dengan Pompanisasi

×

Jabar Akselerasi Perluasan Areal Tanam Sawah Tadah Hujan dengan Pompanisasi

Sebarkan artikel ini
Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan dan Produktivitas Pertanian di Jawa Barat di Gedung Sate, Kota Bandung. (dok. jabarprov.go.id)

Musim panen raya sudah dimulai pada akhir April hingga awal Mei 2024. Selanjutnya musim tanam akan dilaksanakan pada Juni 2024.

Namun, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setelah Mei curah hujan akan terus menurun, sehingga dikhawatirkan akan terjadi kekeringan dan berpotensi gagal panen.

Kementerian Pertanian (Kementan) sudah mengantisipasi hal tersebut dengan memaksimalkan produksi sawah tadah hujan atau padi gogo melalui kegiatan pompanisasi.

Dalam Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan dan Produktivitas Pertanian di Jawa Barat di Gedung Sate, Kota Bandung disampaikan bahwa Kementan sudah mengalokasikan bantuan pompanisasi sebanyak 2.500 titik untuk akselerasi perluasan tanam sawah tadah hujan di Jabar.

Dalam rapat tersebut, Penjabat (Pj) Gubernur Jabar Bey Machmudin menyampaikan perlunya peningkatan produksi sawah tadah hujan untuk mengejar target produksi gabah sebanyak 11 juta ton lebih tahun ini.

“Perlu ada instrumen untuk menjaga ketersediaan air antara lain dengan pompanisasi. Namun, penerima pompanisasi harus jelas dan sesuai target sehingga saya meminta pemerintah kabupaten/kota membuat pemetaan lahan dan lokasinya,” ujar Bey.

Selain itu, lanjutnya, perlu koordinasi dengan pihak TNI/Polri untuk menjaga program pompanisasi dan jika perlu di setiap alat pompanisasi disematkan GPS atau menggunakan pengawasan secara digital.

“Maksimalkan juga resi gudang dan pusat distribusi Jabar sebagai instrumen pengendalian stok dan harga pangan,” tegasnya.

Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian Komjen Setio Budi menyatakan, TNI dan kementerian sudah bekerja sama untuk program pompanisasi, termasuk untuk wilayah Jabar yang kebagian 2.500 titik.

Sebanyak 201.702,6 hektare sawah tadah hujan dan beberapa sawah irigasi akan menjadi sasaran dari pompanisasi sesuai prioritasnya, sehingga Pemerintah Provinsi (pemprov) Jabar diminta segera menyampaikan peta lokasi dan lahan petani mana saja yang berhak mendapatkan pompanisasi.

“Saya berharap ada akselerasi di Jabar sebab hingga 15 April 2024, dari total luas lahan sawah tadah hujan itu hanya 5.630 hektare yang sudah mulai percepatan tanam, jumlahnya masih sangat kecil,” jelas Setio Budi.

Sekda Provinsi Jabar Herman Suryatman meminta Bupati/Wali Kota di Jabar sesegera mungkin menindaklanjuti kebutuhan Kementan, khususnya terkait peta lahan penerima bantuan pompanisasi.

“Baru 1.300 titik yang sudah terealisasi untuk 13.000-an hektare lahan. Kementerian Pertanian bahkan  siap jika Jabar menambah kebutuhan pompanisasi hingga 5.000 titik,” ungkapnya.

Pj Bupati Bandung Barat Arsan Latif yang hadir dalam rakor meminta 44 titik pompanisasi untuk areal lahan tadah hujan di wilayahnya.

Selain itu, dia berharap ada perbaikan saluran irigasi sawah karena banyak yang rusak.

Hal yang sama disampaikan Pj Bupati Sumedang Tuti Ruswati, yang melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) sudah melaksanakan pompanisasi pada 200 hektare lahan sawah, tetapi masih membutuhkan tambahan program pompanisasi dari Kementan.

“Kami juga meminta bantuan Pemprov Jabar memperbaiki Bendung Cariang di Kecamatan Ujung Jaya yang kondisinya sudah mulai rusak. Bendung ini sangat vital bagi pengairan saluran irigasi di Sumedang,” tutur Tuti. BIG

Facebook Comments Box