JATENG MagzRegional

Pekalongan Ubah Lahan Eks Rob Jadi Kawasan Pertanian

×

Pekalongan Ubah Lahan Eks Rob Jadi Kawasan Pertanian

Sebarkan artikel ini
Perbaikan tanggul dengan trucuk bambu dan karung pasir, karena banjir rob di Kabupaten Pekalongan. (dok. bpbdkabupatenpekalongan)

Puluhan hektare lahan bekas terdampak rob di wilayah Kota Pekalongan, Jawa Tengah segera dialihfungsikan menjadi lahan sawah.

Program itu merupakan kelanjutan dari kesuksesan pemanfaatan lahan demplot di Kelurahan Krapyak dan Degayu, sebagai lokasi penanaman padi varietas Biosalin I dan II.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan Lili Sulistyowati menuturkan, pada akhir tahun 2024, pihaknya menguji coba penanaman padi di lahan demplot seluas 1,3 hektare di wilayah Kelurahan Krapyak.

Alhamdulillah, dari demplot 1,3 hektare kini sudah mencapai 40 hektare. Total pagu sawah di Kota Pekalongan ada 721 hektare,” ujarnya pada acara Capacity Building Perluasan Remediasi Lahan Pertanian dengan Memanfaatkan Lahan Eks Rob di Hotel Howard Johnson (Hojo) Pekalongan.

Dari jumlah tersebut, terdapat potensi sekitar 95 hektare lahan eks rob di Kelurahan Krapyak dan Degayu yang bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian.

Pada kesempatan yang sama, wakil dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal Bimala mengungkapkan uji coba demplot juga dilakukan di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara.

Semula, dia menambahkan, luasan lahan yang dipakai adalah 1,5 hektare, lalu berkembang menjadi 40 hektare.

Bimala menjelaskan, hasil panen menggunakan varietas Padi Biosalin I mampu mencapai 4,2 ton per hektare hingga 5,7 ton per hektare, sedangkan Biosalin II menghasilkan 4,8 ton per hektare sampai dengan 6 ton per hektare.

Capaian tersebut, katanya, luar biasa untuk lahan yang sebelumnya tidak produktif.

“Keberhasilan panen Padi Biosalin di Kota Pekalongan bisa ditularkan ke wilayah lain di sepanjang Pantura maupun eks karesidenan Pekalongan. Kami ingin semuanya mengimplementasikan hal serupa,” tuturnya.

Bimala juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan yang lebih dulu membangun tanggul sebagai sistem penanganan banjir dan rob, sehingga remediasi lahan lebih mudah dilakukan.

Keberhasilan Pekalongan ini mendapat dukungan penuh dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) Kementan Bogor.

Kepala BRMP Biogen Arif Surahman menambahkan, masalah intrusi salin bukan hanya dialami Pekalongan, melainkan juga di banyak wilayah pesisir Indonesia.

Bahkan, terdapat sekitar 400.000 hektare lahan di Indonesia yang terkena intrusi salin.

Lahan tersebut berpotensi untuk ditanami padi varietas Biosalin I dan II yang tahan terhadap air dengan kandungan garam tinggi.

Dia menegaskan bahwa varietas Biosalin memiliki produktivitas tinggi, terutama jika tanaman sudah adaptif dengan kondisi lahan.

Produktivitas Biosalin I mencapi 8,7 ton per hektare, sedangkan Biosalin II mencapai 9,2 ton per hektare.

Menurutnya, keberhasilan Kota Pekalongan mengubah lahan eks rob menjadi lumbung pangan baru menjadi inspirasi bagi daerah lain di sepanjang Pantai Utara (Pantura).

Dari hasil uji coba terbatas, kini lahannya semakin luas dan produktif, memberikan harapan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini terdampak rob.

“Program ini sekaligus membuktikan bahwa dengan kolaborasi pemerintah, lembaga keuangan, peneliti, dan masyarakat, permasalahan lingkungan bisa diubah menjadi peluang ekonomi dan ketahanan pangan,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan Balgis Diab mengatakan, program pemanfaatan lahan eks rob ini selaras Program Asta Cita yang kedua dari Presiden Prabowo, yakni tentang penguatan ketahanan pangan.

Dia menambahkan, dengan jumlah lahan eks rob yang cukup banyak di Kota Pekalongan, pihaknya berkomitmen mengembalikan fungsi lahan menjadi produktif secara bertahap.

“Harapannya, lahan yang semula mati bisa diproduktifkan kembali, berkelanjutan dan bukan hanya sekadar seremonial,” tegasnya. BIG

 

 

 

 

Facebook Comments Box