Thaif, Sebuah Peristiwa Politik Jadi Catatan Susulan Perjalanan Umrah Ramadan

Masjid Siku Thaif. (dok. almukminin.com)

Ketika Rasulullah berlumuran darah dengan hati yang sangat terluka di Thaif, melalui Jibril para malaikat penjaga gunung itu berkata, Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar persekusi kaummu terhadapmu.

Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau berkenan, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini menimpa mereka.

Sudah banyak pakar yang membahas peristiwa Thaif dari sudut pandang “langit”. Kali ini penulis mencoba down to earth dari perspektif politik guna menjembatani pemahaman peristiwa normatif ke dalam realitas peristiwa politik.

Siang itu, pada 4 Mei 2022, dua hari setelah Idulfitri 1443 Hijriah, matahari bersinar tanpa penghalang. Tidak ada secuil pun awan di langit yang biru.

Penulis menutup kepala dengan keffiyeh ala Yasser Arafat meskipun berbeda warna. Keffiyeh penulis berwarna merah, sedangkan keffiyeh Arafat dengan motif kotak-kotak hitam dan putih yang telah menjadi simbol perjuangan politik nasionalisme Palestina.

Yasser Arafat seorang pemimpin dan politisi Palestina idola penulis. Makanya siang itu, serasa menyatu dengan semangat Yasser Arafat.

Ternyata, keffiyeh bukan sekedar pelindung dari sinar matahari. Entah kenapa ketika keffiyeh melekat di kepala terdapat energi positif yang mampu membakar semangat. Makanya setiap situs yang dikunjungi menjelma menjadi simpul analisa dalam pespektif politik.

Thaif, terletak sekitar 110 km arah Tenggara Makkah. Kota Thaif berada di dataran tinggi dengan ketinggian 1.700 m di lereng Pegunungan Sarawat.

Kota berhawa sejuk Thaif membuat banyak taman hijau dan sentra agrikultur yang terkenal antara lain anggur, tin, zaitun, delima. Selain itu, terdapat madu dan parfum mawar (rose) yang berkualitas baik.

Kota ini memiliki populasi sekitar 521.000 penduduk. Thaif dikembangkan menjadi kota wisata modern yang lengkap.

Selain destinasi religi, juga terdapat objek wisata modern. Daya tarik utama Taman Al-Rudaf sejatinya adalah danau besar di tengahnya, yang meliputi area seluas 13.000 meter persegi.

Danau ini memiliki air mancur dan 750 meriam air dan wahana anak-anak, bisa menunggang kuda atau unta, waterpark. Di kawasan Al Hada ada cablecar yang menguji nyali.

Dalam menelusuri Thaif, pandangan mata liar mencari keberadaan pohon zaqqum. Konon ada di Thaif, ternyata pohon langka itu tidak penulis jumpai.

Kisah pohon zaqqum juga terdapat pada Alquran, Surat Al Waqiah ayat 52 hingga 56 bahwa penghuni neraka akan diberi makan dari buah pohon zaqqum yang sangat pahit.

Hijrah ke Thaif

Hijrah Rasulullah ke Thaif adalah peristiwa politik dalam rangka menggalang legitimasi masyarakat alternatif.

Mengalihkan basis politik adalah peristiwa biasa dalam perjuangan seorang pemimpin. Pemimpin berjiwa negarawan harus berpikir jauh ke depan demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

Peristiwa Thaif dalam konteks itu, sebuah proses “menggodok” pemimpin dengan penderitaan dalam rangka proses menuju kematangan sebagai negarawan.

Tekanan politik kepada Rasulullah sejalan dengan pengertian politik menurut Gabriel A. Almond (1911-2002), adalah kegiatan yang berhubunga dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu di wilayah tertentu, kendali ini disokong lewat instrumen yang sifatnya otoritatif dan koersif.

Makanya, Rasulullah mendapat tekanan koersif yang memunculkan konflik antara kebijakan kaum Quraisy yang ingin mempertahankan nilai tradisional versus pembaruan nilai rasional yang ditawarkan Rasulullah.

Dalam khazanah intelektual fenomena ini hal biasa. Namun, kekuasaan yang cenderung koersif telah berubah menjadi anarkis, mengancam, penghadangan, eskalasi yang lebih serius, bahkan menuju pada upaya pembunuhan.

Peristiwa di Makkah dari perspektif politik dapat dipastikan sebagai konflik berdimensi politik. Bukan sekedar konflik antar keluarga suku Qurasy.

Sejak meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah tekanan politik di Makkah kepada Rasulullah dari kaum kafir Quraisy makin menjadi-jadi. Eskalasi persekusi politik makin tidak beradab.

Bahkan, sudah berani melakukan penghadangan di jalan dengan menyiramkan pasir dan kotoran unta. Ancaman secara fisik makin sering terjadi. Salah seorang tokoh politik Quraisy yang paling vokal yakni Abu Jahal.

Solusi terbaik harus menghindar dari wilayah konflik. Rasulullah memilih hijrah ke Thaif dengan berjalan kaki ditemani oleh Zaid bin Haritsah, anak angkat Beliau.

Sampai di Thaif Rasulullah menemui kerabatnya Abd al-Yalail, Mas’ud, dan Hubaib, ketiganya putera Amr ibn Umar ats-Tsaqafi.

Komunikasi politik Rasulullah dengan meminta ketiga tokoh dimaksud untuk masuk Islam tampak kurang berhasil ditandai adanya penolakan keras, persekusi, dan penghinaan diluar batas peradaban.

Tampaknya hasutan Abu Jahal pada penduduk Thaif sukses memanipulasi opini publik. Akhirnya penduduk Thaif turun ke jalan melabrak Rasulullah.

Begitulah lazimnya peristiwa politik. Kekuatan massa rakyat selalu saja menjadi eksekutor.

Dalam perjalanan Rasulullah dihadang dan dilempari batu sambil dicaci maki. Zaid berusaha melindungi dengan sekuat tenaga, sehingga kepalanya berdarah.

Namun, tetap saja Rasulullah terluka tumitnya, baju dan keffiyeh berlumuran darah, bahkan tidak sedikit pun rasa takut tergurat di wajah Rasulullah.

Dalam konteks ini mengingatkan pendapat negarawan Nelson Mandela: Courage is not the obsence of fear…It’s inspiring others to move beyond it.

Orang yang memiliki keberanian bukan berarti sudah mati rasa, tapi ia telah mampu melewati batas rasa takut itu sendiri. (M. Alfan Alfian, Wawasan Kepemimpinan Politik: 2016 h. 393).

Untung Rasulullah berhasil menghindar di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah, anak Rabiah, 4 km dari Thaif.

Hikmah di Kebun Anggur

Penderitaan Rasulullah ketika hijrah ke Thaif sampai ke titik nadir, sepahit buah pohon zaqqum. Dukungan politik yang diharapkan makin jauh dari jangkauan.

Dari perspektif religi, peristiwa di Kebun Anggur ini pada hakikatnya sebagai pengantar untuk memperoleh limpahan hikmah. Rasulullah muhasabah dan mengakui kelemahan diri sebagai sejatinya kodrat manusia yang tidak berdaya:

Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha-Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku.

Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku.

Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.

Ketika ditawarkan opsi oleh malaikat untuk pembalasan dengan memusnahkan penduduk Thaif dengan menimpakan gunung kepada mereka. Negarawan Rasulullah menolak dengan bijak sambil berdoa:

Allahummahdi qawmî fainnahum laa ya’lamuun, Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.

Dari perspektif politik, sikap Rasulullah telah menunjukkan seorang negarawan sejati.

Dari usia belia Rasulullah telah menampilkan sosok negarawan antara lain yang populer ketika Beliau membuka jubah untuk menengahi konflik antarsuku dalam menetapkan siapa yang lebih berhak meletakkan hajarul aswad.

Kualitas Rasulullah pasti bukan selevel politisi. Beliau memikirkan jauh tentang peradaban umat manusia.

Dalam pada itu, terdapat idiom yang populer: Seorang Negarawan memikirkan bagaimana generasi selanjutnya, sedangkan politisi hanya memikirkan bagaimana pemilu berikutnya.

Makanya mantan Presiden AS Harry Truman mengatakan bahwa seorang politisi baru bisa disebut negarawan apabila sudah meninggal sedikitnya selama 15 tahun.

Sifat negarawan Rasulullah juga ditandai dengan mendoakan dengan ikhlas, tanpa sedikitpun rasa dendam, agar keturunan masyarakat Thaif kelak menyembah Allah SWT. Saat ini, terbukti penduduk Thaif 100% beragama Islam.

Addas Si Budak Nasrani

Kisah Addas sangat menarik. Addas seorang budak beragama Nasrani yang berasal dari Ninawe, Irak. Beliau bekerja sebagai budak pada Utbah dan Syaibah sang petani anggur.

Addas tercatat sebagai orang pertama di Thaif yang masuk Islam. Justeru bukan dari kalangan elite Thaif. Kisahnya penuh hikmah bahwa hidayah selalu datang dari pintu yang tidak terduga.

Setelah pengejaran oleh demonstran berhenti, Rasulullah berlindung di kebun anggur. Pemilik kebun merasa kasihan, dan memanggil Addas untuk menyuguhkan buah anggur kepada Rasulullah yang sedang lusuh, letih dan terluka.

Ketika Addas meletakkan anggur itu di hadapan Rasulullah  dan memakannya seraya mengucapkan, Bismillah.

Addas terkejut mendengar ucapan Rasulullah. Nabi pun menceritakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan agama Islam seperti halnya nabi sebelumnya, dengan suara berwibawa sambil tersenyum simpati.

Tampak kepribadian menarik yang menjadi magnit bagi Addas. Addas belum pernah jumpa manusia seanggun itu.

Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah, lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Nabi. Addas lalu menyatakan diri masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Selain itu, majikan Addas, Utbah dan Syaibah tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan bahwa Rasulullah seorang penipu dan menyarankan Addas tetap menganut Nasrani. Namun, Addas makin kukuh meyakini kebenaran yang sudah bersemi dalam sanubari. Itulah kekuatan hidayah.

Addas seorang budak Nasrani, bukan dari kalangan tokoh elite Thaif, yang pertama kali memeluk Islam. Hal ini biasa dalam fenomena politik.

Legitimasi politik bermula dari kalangan bawah yang mayoritas. Yang memiliki sikap polos, terbuka, bebas, tidak dikotori oleh persepsi dan independen dari intervensi opini pihak lain.

Dalam perjalanannya, secara faktual kekuatan dukungan rakyat kecil setara Addas menggelinding tidak terbendung. Peristiwa monumental ini diperingati dengan berdirinya Masjid Addas di tengah perkampungan rakyat Thaif.

Abdullah bin Abbas

Rasanya tidak lengkap jika tidak mengunjungi Masjid Abdullah bin Abbas yang terletak di Thaif. Masjid Abdullah bin Abbar dibangun tahun 592 H.

Kepala penulis lengkap dengan keffiyeh merah disandarkan ke tembok tinggi penutup makam Abdullah bin Abbas. Seorang intelektual Muslim yang memilih tinggal di Thaif.

Makam itu sengaja ditutup tembok setinggi sekitar 5 m agar umat tidak terjebak pada kebiasaan syirik, kultus pemujaan kuburan, merusak aqidah yang dilarang Islam. Masjid Abdullah bin Abbas dibangun tahun 592 Hijriah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya.

Abdullah bin Abbas adalah sepupu dari Rasulullah. Dia merupakan anak dari Abbas bin Abdul Muthalib dan Ummu al-Fadl Lubaba. Ayah dari Abdullah, adalah paman terkasih Rasulullah.

Ketika Rasulullah wafat, Abbas adalah orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya. (Kumparan. Com: 2020)

Sebagai pemimpin yang negarawan, Rasulullah berkewajiban menciptakan kader pemimpin Islam. Rasulullah telah membina generasi muda antara lain Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, dan Abdullah bin Abbas sendiri.

Pada akhirnya Abdullah bin Abbas menjelma menjadi intelektual muslim yang diakui sampai sekarang.

Beliau menjadi referensi keilmuan dan menjadi mitra diskusi yang dapat menambah wawasan karena ilmunya yang tinggi, termasuk bagi kalangan senior.

Pantas saja Umar bin Kathab memberi julukan kepada Abdullah bin Abbas sebagai “pemuda tua”. (Republika co.id: 2011).

Peninggalan fenomenal hasil intelektual Abdullah bin Abbas yakni telah meriwayatkan lebih dari 1.600 hadis sehingga tercatat sebagai pe-rowi hadis terbanyak kelima.

Selain terkenal sebagai Rowi hadis, Ibnu Abbas juga dikenal dengan banyak julukan antara lain; Hibrul Ummah (pemimpin umat), Faqihul Ashr (orang yang paling pandai memahami agama di masanya), Imam Tafsir (ahli tafsir), al-Bahr (lautan karena luasnya ilmu), dan banyak julukan lain. (Liputan6.com: 2018)

Diusia senjanya, Ibnu Abbas memilih berdomisili di Thaif guna menjaga kemurnian gerakan Islam di Thaif.

Dari perspektif politik penyebaran domisili tokoh pemimpin adalah bagian dari strategi politik untuk memperkuat hegemoni kekuasaan yang sustain.

Secara faktual, masyarakat Thaif makin kuat kadar keislamannya sehingga tragedi derita Rasulullah di Thaif tinggal kenangan saja. Telah ditebus oleh rakyat Thaif dengan memperjuangkan Islam dengan bersungguh.

Abdullah bin Abbas meninggal di Thaif pada 78 Hijriah dalam usia 81 tahun.

Masjid Siku

Lokasi Masjid Siku (Kuw’) sekitar 1 km dari Masjid Addas. Bangunan Masjid Siku mengundang perhatian karena hanya berupa susunan batu gunung di tebing perbukitan batu.

Situs ini kecil mirip goa yang mengundang misteri. Di dalam terdapat ruang shalat yang sempit.

Konon lokasi ini dulu tempat Rasulullah istirahat sambil meletakkan siku di atas batu. Namun tiba-tiba batu dimaksud amblas dan menyisakan bekas siku Rasulullah.

Kisah ini sulit dipercaya karena tidak rasional dan miskinnya literatur pendukung. Penulis menganggap kisah ini sulit dikategorikan sebagai mukjizat. Hanya sekedar mitos yang beredar di kalangan peziarah.

Disisi lain, jemaah Pakistan menyebutnya “Masjid Hazrat Ali,” mengacu pada Ali bin Abi Thalib.

Padahal, Rasulullah hijrah ke Thaif ditemani oleh anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Tidak ditemukan literatur adanya relasi dengan perjuangan Ali bin Abi Thalib di Thaif.

Dari perspektif politik juga terdapat upaya menciptakan mitos guna membangun legitimasi politik. Fenomena ini terjadi diberbagai belahan dunia, termasuk paling subur terjadi di Indonesia.

Mitos ini disebarkan terkait figur seorang raja/pemimpin, bahkan meliputi kerajaan/negara yang dipimpin. Mitos ini sangat efektif guna menciptakan kekaguman publik terhadap pemimpin.

Bahkan, dicanangkan sebagai titisan Sang Hyang yang turun ke bumi, sehingga pemimpin dimaksud tidak tersentuh untuk disanggah. Apalagi dilengserkan Keprabon.

Hijrah Rasulullah ke Thaif adalah peristiwa politik. Sebuah proses singkat, tapi penuh derita guna menciptakan pemimpin politik yang matang.

Rasulullah muncul sebagai negarawan yang tidak ada bandingnya di dunia. Bahkan, “Penghulu” dari para Rasul dan nabi terdahulu.

Dalam konteks ini, penulis menyadari bahwa tidak akan pernah mampu menganalisis kepemimpinan Rasulullah dengan sempurna, dengan argumen:

  1. Rasulullah seorang pemimpin yang dibekali mukjizat yang melintas batas rasionalitas manusia. Beliau adalah manusia Maksum yang terjaga dari kesalahan dan blunder politik.
  2. Rasulullah bukan sekedar aktor politik dalam memimpin negara (state). Beliau pemimpin umat seluruh dunia melintas batas teritorial sebuah negara. Pemimpin umat yang memiliki dimensi Ilahiah supranatural yang hanya bisa dijangkau dengan iman.
  3. Parameter Ilmu Politik tidaklah memadai untuk menganalisis seorang pemimpin umat yang komplit, melintas batas sebuah state.

Namun demikian, penulis telah mencoba merumuskan cara pandang perspektif politik dengan serius sampai dengan pulang ke Indonesia.

Sejak di Thaif, keffiyeh merah selalu melekat di kepala penulis sampai dengan mendarat di Terminal 3 Bandara Sukarno Hatta. Sebuah refleksi penghormatan bahwa sehelai keffiyeh saja mampu menjadi simbol pemersatu perjuangan politik Palestina.

Setiap perjuangan politik di negara manapun memerlukan simbol pemersatu, termasuk perjuangan bangsa kita.

Simbol “Pita Merah Putih” di lengan pejuang sejak era kemerdekaan sudah terpatri dalam jiwa anak bangsa Indonesia.

Maka teruslah berjuang dengan simbol Pita Merah Putih. Jangan pernah ditanggalkan dari sanubari kita sedetik pun. (Penulis: Dr. Iramady Irdja, Pengamat Ekonomi Politik dan Mantan Pegawai Bank Indonesia)

Facebook Comments Box